“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”
(1 Petrus 3:15)
Perintah Tuhan ini bukan bersifat pilihan untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Perintah ini bagi setiap orang percaya harus dilakukan. Ada alasan-alasan yang tepat dan praktis untuk itu, yaitu: Pertama, demi iman kita sendiri tentang KEBENARAN. Kita harus siap sedia memberi jawaban. Kita harus memiliki keyakinan dalam pikiran kita bahwa Yesus Kristus adalah KEBENARAN, sehingga kita mau dan mampu memberitakan Injil kepada orang lain. Jika kita tidak memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah kebenaran, maka hidup rohani kita juga akan kering dan melarat. Kita tidak akan mampu membagikan iman kita jika kita tidak memiliki keyakinan yang kuat, kokoh terhadap kebenaran yang sesungguhnya yaitu Tuhan Yesus. Kedua, kita memiliki tanggung jawab untuk membantu orang-orang yang belum percaya pada Yesus. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kekristenan dan jika orang Kristen tidak memberi penjelasan, maka pertanyaan mereka yang banyak dan tidak terjawab itu bahkan bagi mereka menjadi peneguhan untuk tidak percaya. Mari kita meniru pria buta yang disembuhkan Yesus dan yang dengan berani memberi pertanggung jawaban tentang imannya pada Yesus yang menyembuhkannya (Yohanes 9:9-38. Jemaat, BACA Ayat-ayat ini! ). Kita perlu mempelajari Fakta-fakta Dasar tentang KEKRISTENAN, tentang INJIL dan tentang YESUS KRISTUS (Baca ulang Buletin mulai dari 3 Minggu yang lalu!) agar kita mempunyai jawaban-jawaban atas pertanyaan orang yang belum percaya yang berulang kali diajukan.
Dua Sikap Berlawanan. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang non-Kristen, hindari dua sikap yang berlawanan tetapi sama bahayanya. Pertama, anti pengetahuan/intelektual. Beberapa orang mengatakan, “Anda tidak perlu repot-repot menggunakan pengetahuan/hikmat manusia. Bahkan jangan coba-coba memikirkan ke-Kristenan.” Kelompok ini seolah tidak perlu mempertimbangkan pemikiran-pemikiran manusia. Itu tindakan salah. Atau, anda akan mendengar, “Jangan dialihkan oleh pertanyaan2 orang.
Britakan saja Injil. Akibatnya yang timbul jika menerima pandangan ini adalah pemikir-pemikir yang non-Kristen akan menyimpulkan ke-Kristenan hanya dari perilaku kita dan pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa ke-Kristenan tidak punya jawaban atas pertanyaan mereka. Lama-lama, kita sendiri akan bertanya-tanya “apakah kita memiliki kebenaran atau tidak?” Sikap anti pengetahuan/intelektual biasanya merupakan jalan buntu baik bagi orang non-Kristen maupun bagi kita sebagai orang percaya. Kedua, kita harus berhati-hati terhadap ketergantungan pada kemampuan pengetahuan dan jawaban-jawaban kita, seolah-olah jawaban kita itu akan membawa orang pada Kristus. Tidak ada jawaban yang membawa orang pada Tuhan Yesus. Hanya Roh Kudus dan Allah yang menerangi pikiran manusia untuk melihat kebenaran yang kita sampaikan sebagai kebenaran yang mereka butuhkan dengan jalan menundukkan kesombongannya diri atau intelektualnya pada otoritas Kristus.
Kita perlu memberikan jawaban, hanya dalam pengertian agar di tangan Tuhan jawaban cerdas kita terhadap pertanyaan-pertanyaan dapat menjadi alat yang membuka hati dan pikiran mereka pada Injil, pada ke-Kristenan dan pada Kristus.
Terakhir, hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kita sedang berada dalam peperangan rohani yang melibatkan diri kita (setiap orang yang membaca memakai kata ”diriku”) dengan orang-orang non-Kristen. Paulus memakai istilah yang tepat untuk menjelaskan mengapa seseorang tidak mau percaya dan tidak mau menerima Injil dan Yesus Kristus dalam 2 Korintus 4:4, yaitu: “Pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahanyaInjil tentangkemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”
Berita yang kita sampaikan tidak dapat membawa mereka kepada kebenaran yang sesungguhnya, kecuali terjadi karya supra-natural (hal yang ajaib) untuk mencerahkan mereka. Namun, disisi lain Roh Kudus dan Tuhan tidak bisa berkarya tanpa adanya orang yang memberitakan imannya kepada orang lain (Roma 10:13-15). Berita kita menjadi alat /instrumen yang membawa seseorang menjadi beriman pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Karena itu BRITAKANLAH! Tuhan Yesus Memberkati Para Pemberita Iman, Injil dan Yesus Kristus. Suara Hati Gembala.
Kamis, 19 November 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
