Jumat, 27 November 2009

Dipanggil Untuk Memenangkan Jiwa Bagi Tuhan

Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.(ay. 10b)
Lukas 5:1-11.

Panggilan melayani dan membawa jiwa kepada Tuhan adalah tugas semua orang percaya, bukan hanya tugas pendeta, penginjil, misionari, gembala, atau orang yang pernah sekolah di bidang teologi saja, tetapi ini adalah tugas semua orang percaya. Panggilan melayani ini juga bukan diperuntukkan untuk orang atau golongan masyarakat tertentu. Panggilan ini, tidak memandang latar belakang pendidikan, status sosial, usia, atau apa pun. Panggilan ini adalah panggilan bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk menghasilkan buah yang menyenangkan hati Tuhan (Yoh.15:16).
Petrus adalah seorang nelayan yang pekerjaan setiap harinya adalah “melaut” dan menangkap ikan sebanyak mungkin. Tetapi pagi itu, mereka tidak menangkap apa-apa (ay.5). Kita bisa membayangkan betapa lelahnya Petrus dan teman-temannya karena sudah semalaman bekerja tapi tidak menghasilkan apa-apa. Namun demikian, walaupun lelah, letih, capek, ketika Tuhan Yesus meminta dia untuk menjaga perahu di mana Tuhan Yesus berkhotbah memberitakan Injil, Petrus mau melakukannya (ay.3).
Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan kita hari ini melalui kehidupan Petrus:
Pertama, Ketaatan. Profesi Petrus adalah seorang nelayan, pasti dia sudah tahu kapan waktu menangkap ikan yang tepat (malam hari). Tetapi ketika Tuhan menyuruh dia menebarkan jala pada siang hari, dia taat (ay.5). hasil ketaatannya kita bisa lihat dalam ayat 6 dan 7. Mereka menangkap sejumlah besar ikan hingga jala mereka mulai koyak, dan ketika mereka mengisi ikan itu ke dalam perahu, dua perahu hampir tenggelam karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.
Kedua, Sadar siapa dirinya. Ketika Tuhan memberkati hidupnya dengan hasil tangkapan ikan yang boleh dikatakan sangat banyak, mungkin selama dia menjadi nelayan belum pernah menangkap begitu bayak ikan. Tetapi hari itu, sekali tebar jala, dia menangkap sejumlah besar ikan yang dimuat dalam dua perahu dan hampir tenggelam. karena banyaknya ikan, mereka semua takjub menyaksikan kejadian hari itu.
Petrus sadar siapa dirinya, dan Siapa yang memberi berkat itu. Dia Tidak berbangga diri karena hasil tangkapan ikan yang banyak, tetapi dia datang kepada Tuhan dan tersungkur serta berkata “Tuhan pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (ay.8). Ini adalah hal yang langkah yang didapatkan dari orang lain. Sebab berapa banyak orang yang merasa hidupnya lebih baik dari orang lain, lebih layak, lebih rohani, lebih pantas? Dan ketika pikiran lebih baik dari orang lain itu muncul dalam diri seseorang, maka akan ada kecenderungan untuk merendahkan orang lain.
Berapa banyak orang yang lebih fokus melihat kesalahan, kelemahan, dan kejelakan orang lain serta melupakan kebaikan yang dimiliki mereka? Berapa banyak orang yang yang selalu foku melihat kebaikan sendiri, kelebihan yang dimilkinya dan pengorbanan yang dilakukannya kepada orang lain dan lupa, bahwa ia juga memiliki kekuarangan dan kelemahan? Itu yang sering dilakukan oleh manusia. Tetapi Petrus berbeda, dia tidak berkata “mereka orang berdosa, tetapi dia berkata, “aku ini seorang berdosa.”
Pengakuan yang demikian memiliki makna yang dalam. Orang yang sadar bahwa ia adalah orang berdosa, secara tidak langsung berkata, bahwa ia membutuhkan penebusan. Dan Tuhan tahu itu. Konsep Petrus, kalau orang berdosa tidak boleh dekat dengan orang yang hidupnya taat beragama, apa lagi dekat dengan Tuhan, makanya ketika Petrus takjub apa yang dikerjakan Tuhan dalam hidupnya, dia berkata supaya Tuhan tidak dekat dengan dia karena dia tidak layak seperti pandangan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak bergaul dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi pandangan Tuhan berbeda dengan manusia. Justru orang berdosalah yang membutuhkan Tuhan. Maka dari itu Tuhan datang untuk bergaul dan memanggil orang berdosa supaya meninggalkan dosanya dan bertobat, serta memiliki kehidupan kekal di dalam Tuhan(ay. 31-32).
Ketiga, Menerima panggilan Tuhan dalam hidupnya. Ada banyak orang yang memberikan hidupnya kepada Tuhan karena sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dikerjakannya. Usaha sudah bangkrut, sudah tidah diterima kerja di mana-mana. Daripada pengangguran, biarlah saya melayani Tuhan saja. Itu namanya bukan panggilan, tetapi pelarian. Memang kadang Tuhan memakai keadaan kita untuk membawa kita ke ladang pelayananNya. Tetapi Petrus, dipanggil di tengah-tengah keberhasilan yang luar biasa, yang mungkin belum pernah terjadi dalam hidupnya selama menjadi nelayan. Dia menangkap sejumlah besar ikan. Tetapi ketika ikan itu di depan mata Petrus, dia sedang menyaksikan hasil tangkapannya yang luar biasa banyaknya, mungkin dalam hatinya dia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya. Justru pada waktu itulah Tuhan berkata kepada Petrus “Tugasmu sekarang bukan lagi menjala ikan, tetapi menjala manusia. Tugasmu sekarang bukan lagi menangkap ikan tetapi menangkap manusia dari lumpur dosa dan membawa mereka kepadaKu supaya mereka bertobat.” Ini namanya panggilan. Dan Petrus yang menyaksikan sejumlah besar ikan hasil tangkapannya hari itu meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus.
Banyak orang yang berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan memenuhi gereja mereka, tapi tidak pernah bersaksi, memberitakan Ijil, atau mungkin itu kita orangnya. Doa yang demikian salah besar. Tuhan telah menyuruh kita pergi untuk memberitakan injil, membawa orang kepada Tuhan. Tetapi sekarang ada banyak orang yang menyuruh Tuhan pergi untuk membawa jiwa dalam gerejanya. Kita yang harus pergi, jangan kita suruh Tuhan yang pergi. Kalau kita orangnya, mari kita bertobat. Tuhan yang memanggil setiap kita melayani Dia, Tuhan juga yang akan memberikan kepada kita kemampuan, sehingga apa yang kita kerjakan dibuat Tuhan berhasil. Maukah saudara dipakai Tuhan untuk menjadi alatNya? Dia menantikan saudara….! Selamat melayani. Yandi entry S.th

Kamis, 19 November 2009

Semua Orang Kristen Harus Mampu Membela Imannya

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”
(1 Petrus 3:15)

Perintah Tuhan ini bukan bersifat pilihan untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Perintah ini bagi setiap orang percaya harus dilakukan. Ada alasan-alasan yang tepat dan praktis untuk itu, yaitu: Pertama, demi iman kita sendiri tentang KEBENARAN. Kita harus siap sedia memberi jawaban. Kita harus memiliki keyakinan dalam pikiran kita bahwa Yesus Kristus adalah KEBENARAN, sehingga kita mau dan mampu memberitakan Injil kepada orang lain. Jika kita tidak memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah kebenaran, maka hidup rohani kita juga akan kering dan melarat. Kita tidak akan mampu membagikan iman kita jika kita tidak memiliki keyakinan yang kuat, kokoh terhadap kebenaran yang sesungguhnya yaitu Tuhan Yesus. Kedua, kita memiliki tanggung jawab untuk membantu orang-orang yang belum percaya pada Yesus. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kekristenan dan jika orang Kristen tidak memberi penjelasan, maka pertanyaan mereka yang banyak dan tidak terjawab itu bahkan bagi mereka menjadi peneguhan untuk tidak percaya. Mari kita meniru pria buta yang disembuhkan Yesus dan yang dengan berani memberi pertanggung jawaban tentang imannya pada Yesus yang menyembuhkannya (Yohanes 9:9-38. Jemaat, BACA Ayat-ayat ini! ). Kita perlu mempelajari Fakta-fakta Dasar tentang KEKRISTENAN, tentang INJIL dan tentang YESUS KRISTUS (Baca ulang Buletin mulai dari 3 Minggu yang lalu!) agar kita mempunyai jawaban-jawaban atas pertanyaan orang yang belum percaya yang berulang kali diajukan.
Dua Sikap Berlawanan. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang non-Kristen, hindari dua sikap yang berlawanan tetapi sama bahayanya. Pertama, anti pengetahuan/intelektual. Beberapa orang mengatakan, “Anda tidak perlu repot-repot menggunakan pengetahuan/hikmat manusia. Bahkan jangan coba-coba memikirkan ke-Kristenan.” Kelompok ini seolah tidak perlu mempertimbangkan pemikiran-pemikiran manusia. Itu tindakan salah. Atau, anda akan mendengar, “Jangan dialihkan oleh pertanyaan2 orang.
Britakan saja Injil. Akibatnya yang timbul jika menerima pandangan ini adalah pemikir-pemikir yang non-Kristen akan menyimpulkan ke-Kristenan hanya dari perilaku kita dan pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa ke-Kristenan tidak punya jawaban atas pertanyaan mereka. Lama-lama, kita sendiri akan bertanya-tanya “apakah kita memiliki kebenaran atau tidak?” Sikap anti pengetahuan/intelektual biasanya merupakan jalan buntu baik bagi orang non-Kristen maupun bagi kita sebagai orang percaya. Kedua, kita harus berhati-hati terhadap ketergantungan pada kemampuan pengetahuan dan jawaban-jawaban kita, seolah-olah jawaban kita itu akan membawa orang pada Kristus. Tidak ada jawaban yang membawa orang pada Tuhan Yesus. Hanya Roh Kudus dan Allah yang menerangi pikiran manusia untuk melihat kebenaran yang kita sampaikan sebagai kebenaran yang mereka butuhkan dengan jalan menundukkan kesombongannya diri atau intelektualnya pada otoritas Kristus.
Kita perlu memberikan jawaban, hanya dalam pengertian agar di tangan Tuhan jawaban cerdas kita terhadap pertanyaan-pertanyaan dapat menjadi alat yang membuka hati dan pikiran mereka pada Injil, pada ke-Kristenan dan pada Kristus.
Terakhir, hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kita sedang berada dalam peperangan rohani yang melibatkan diri kita (setiap orang yang membaca memakai kata ”diriku”) dengan orang-orang non-Kristen. Paulus memakai istilah yang tepat untuk menjelaskan mengapa seseorang tidak mau percaya dan tidak mau menerima Injil dan Yesus Kristus dalam 2 Korintus 4:4, yaitu: “Pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahanyaInjil tentangkemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”
Berita yang kita sampaikan tidak dapat membawa mereka kepada kebenaran yang sesungguhnya, kecuali terjadi karya supra-natural (hal yang ajaib) untuk mencerahkan mereka. Namun, disisi lain Roh Kudus dan Tuhan tidak bisa berkarya tanpa adanya orang yang memberitakan imannya kepada orang lain (Roma 10:13-15). Berita kita menjadi alat /instrumen yang membawa seseorang menjadi beriman pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Karena itu BRITAKANLAH! Tuhan Yesus Memberkati Para Pemberita Iman, Injil dan Yesus Kristus. Suara Hati Gembala.